Rabu, 27 Desember 2017

Bahasa Indonesia Kelas 1

menjelaskan benda benda di sekitar




kamu masih ingat benda di sekitar
kamu tentu masih ingat bukansekarang kamu akan pelajari kembali
mempelajari benda benda di sekitarmu
ayo dengarkan penjelasan berikut !
sabun mandi
sabun untuk membersihkan tubuh cara memakainya gosokkan ke seluruh tubuh
bilas tubuh dengan air sikat gigi dan pasta gigi
sikat gigi untuk membersihkan gigi cara memakainya: tuangkan pasta pada sikat gigi
sikatlah gigi ke atas dan ke bawahsikatlah sampai bersih dan putih berkumurlah untuk membersihkan mulut
shampo
shampo untuk membersihkan rambut. cara memakainya :tuangkan shampo di telapak tanganusapkan pada rambutpijat rambut dan kepala hingga berbusabilas dengan air sampai bersih

menyampaikan rasa suka dan tidak suka
kamu tentu pernah menyukai sesuatusesuatu itu membuat kamu senang kamu akan mengungkapkan rasa suka sebaliknya kalau kamu tidak menyukai sesuatusesuatu itu membuat kamu sedih kamu mengungkapkan rasa tidak suka
ayo perhatikan contoh berikut !
aku suka menyapu lantai rumahku menjadi bersih, rumahku tidak ada kuman
lantai bersih indah dipandang aku suka merapikan tempat tidurku
kamarku menjadi rapi, kamarku tidak berantakan. aku tidak suka mencoret dinding

dinding akan menjadi kotor, dinding tidak enak dipandang. Aku juga  tidak suka kuku panjang, karean kuku panjang  menjadi kotor dan kuku banyak kuman.

Selasa, 26 Desember 2017

IPA Kelas 1



BENDA DI SEKITARKU

benda dapat dibedakan satu sama lainbenda dibedakan berdasarkan ciri ciri tertentumisalnya bentuk ukuran atau warna
1. bentuk benda
bentuk benda bermacam macam , ada bentuk segitiga dan persegi, ada bentuk lingkaran lonjong dan batang, ada pula bentuk kubus balok dan tabung
a.    berbagai benda ada di kamarku
bentuknya bermacam macambantal berbentuk persegi, guling berbentuk lonjong
lemari berbentuk balok, jam dinding berbentuk lingkaran, gelas berbentuk tabung
b.    berbagai benda ada di kelasku
bentuknya bermacam macam ada penggaris berbentuk segitiga, pensil berbentuk batang
buku tulis berbentuk persegi, papan tulis berbentuk persegi, ubin dan pintu juga berbentuk persegi,kapur tulis berbentuk lonjong,tempat kapur tulis berbentuk kubus,penghapus berbentuk balok
2.   ukuran benda
benda benda di sekitarku berbeda ukuranada benda berukuran kecil ada juga benda berukuran besar. sepeda orang dewasa berukuran besar sedangkan sepeda anak berukuran kecil. kerbau berukuran besar, sedangkan tikus berukuran kecil
3. Bau Benda
aku senang merawat tanamanaku menanam bunga di taman. ada bunga melati dan mawar. bunga melati dan mawar berbau wangi
ibu membeli ikan segar di pasar, ada ikan lele mujair dan bawal. ikan ikan segar itu berbau amis.
4. warna benda
aku suka sekali bunga warna bunga bermacam macam ada merah putih dan kuning
ada juga biru ungu dan jingga .semuanya indah dan menawan hati ,aku suka semuanya
warna buah juga beraneka macam.buah pisang berwarna kuning, buah rambutan berwarna merah, buah serikaya berwarna hijau

Tematik Kelas 3 Tema 5




  PERMAINAN TRADISIONAL 



Pada umumnya, permainan tradisional memiliki ciri kedaerahan asli sesuai dengan tradisi budaya setempat. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, unsur-unsur permainan rakyat dan permainan anak sering dimasukkan dalam permainan tradisional. Dimungkinkan juga untuk memasukkan kegiatan yang mengandung unsur seni seperti yang biasa kita sebut dengan seni tradisional. Permainan tradisional memiliki ciri yang punya unsur tradisi dan berkaitan erat dengan kebiasaan atau adat suatu kelompok masyarakat tertentu. Kegiatan yang dilakukan harus mengandung unsur fisik nyata yang melibatkan kelompok otot besar dan juga mengandung unsur bermain sebagai landasan maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut.
Setiap anak menyukai aktivitas bermain. Permainan anak sangat banyak ragamnya. Ada permainan tradisional, ada juga permainan modern. Permainan tradisional adalah
permainan khas. Setiap daerah di Indonesia memiliki permainan tradisionalnya masing- masing. Ada jenis permainan tradisional yang cara bermainnya sama, namun namanya berbeda tergantung dari daerahnya masing-masing.
Jenis permainan tradisional
CONGKLAK

Ini jenis permainan tradisonal yang masih banyak dimainkan. Alat yang dikenal juga dengan sebutan “dakon” ini masih banyak dijual di pasaran. Konon Ibu Bapak guru, ini adalah salah satu permainan tertua di dunia. Permainannya, bukan alatnya. Jika benar kita perlu berbangga telah mewarisi salah satu permainan yang legendaris.

Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu-persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan. Jika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka biji-bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat pada lubang yang kecil telah habis dikumpulkan. Pemenangnya adalah yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian kelubang induk miliknya.
ENGKLEK

Meski namanya berbeda-berbeda, cara memainkannya sama, yakni pemain meloncati bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan menggunakan satu kaki. Pada ujung petak dibuat gundukan seperti gunung. Pemain harus meloncat dengan menggunakan satu kaki dari petak satu ke petak berikutnya. Sambil meloncat, ia memegang gaco untuk dilemparkan ke masing-masing petak dan kemudian pemain melakukan lompatan ke dalam petak-petak tersebut.

Setelah melompat ke satu petak pemain mengambil gaco tersebut kemudian dilemparkan lagi ke petak selanjutnya. Gaco yang dilempar tidak boleh melebihi batas petak, jika melewati maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain lainnya. Pemain yang berhasil menyelesaikan keseluruhan engklek terlebih dulu dinyatakan sebagai pemenang.

#4 GOBAK SODOR

Untuk bisa memainkannya harus ada dua kelompok, satu kelompok sebagai tim laku dan satu kelompok sebagai tim jaga. Inti permainannya adalah tim jaga yang berdiri tepat di garis depan petak harus menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan
.

Senin, 25 Desember 2017

Akidah Akhlak Kelas 4

MEYAKINI KITAB-KITAB ALLAH




Kita wajib meyakini keberadaan Kitab-kitab Allah Swt. Diantara
Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para rasul-Nya adalah Taurat,
Zabur, Injil dan Al-Qur'an. Ayo untuk lebih jelasnya kita cermati Kitabkitab Allah berikut ini!
1. Kitab Taurat
Taurat berbahasa Ibrani yang artinya syariah atau perintah. Kitab Taurat
diturunkan kepada Nabi Musa AS. Isi kitab Taurat adalah keyakinan untuk menyembah Allah Swt. serta larangan menyembah berhala. Di dalam Kitab Taurat ini juga menerangkan tentang kedatangan Nabi Muhammad Saw. sebagai rasul terakhir.
2. Kitab Zabur
Zabur artinya tulisan. Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud AS. Kitab Zabur berbahasa Qibti berisi tentang beberapa zikir, pengajaran, dan hikmah. Kitab Zabur merupakan petunjuk atau wahyu dari Allah dan berlaku pada umat Bani Israil.
3. Kitab Injil
Kitab Injil diberikan kepada Nabi Isa AS. Kitab Injil berbahasa Yunani yang dalam bahasa Arabnya berarti Albisyarah atau kabar gembira. Kitab Injil diturunkan sebagai pedoman hidup yang berisi tentang keterangan dan ajaran-ajaran yang membenarkan atau memperkuat ajaran yang terdapat dalam Kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Zabur. Kitab Injil merupakan pedoman bagi kaum Nasrani.

4. Kitab Suci Al-Qur'an
Al-Qur'an artinya bacaan atau yang dibaca. Al-Qur'an adalah wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang berbahasa Arab. Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.

Bahasa Indonesia Kelas 2

CERITA ANAK




pengertian Cerita Anak
Karakteristik cerita anak tidak berbeda halnya dengan hakikat sastra pada umumnya. Menurut Nurgiyantoro (2005:218) pada hakikatnya sastra adalah citra kehidupan, gambaran kehidupan. Selanjutnya menurut pendapat Lukens (2003:8) “Cerita anak adalah cerita yang menceritakan tentang gambar-gambar dan binatang-binatang maupun manusia dengan lingkungan”.

Dalam cerita anak tergambar peristiwa kehidupan karakter tokoh dalam menjalani kehidupan sebagaimana diungkapkan dalam alur cerita. Dengan demikian cerita anak adalah subjek yang menjadi fokus perhatian, dan hal itu tercermin secara konkret dalam cerita. Menurut Nurgiyantoro (2005:35) “Cerita anak adalah cerita yang di mana anak merupakan subjek yang menjadi fokus perhatian. Tokoh cerita anak boleh siapa saja, namun mesti ada anak-anaknya, dan tokoh anak itu tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga pusat pengisahan”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa cerita anak adalah cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kaca mata anak.

Unsur-Unsur Cerita Anak
Cerita fiksi anak terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur cerita yang secara langsung berada di dalam dan menjadi bagian, dan ikut membentuk eksitensi cerita seperti tokoh, latar, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah jati diri pengarang yang mempunyai ideologi, pandangan hidup bangsanya, kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat yang dijadikan latar cerita. Adapun yang dipaparkan pada pembahasan ini adalah unsur-unsur intrinsik yaitu :

Tokoh
Dalam cerita fiksi anak, tokoh merupakan unsur yang menarik perhatian dan mengesankan. Nurgiyantoro (2005:222) mengemukakan bahwa tokoh cerita menjadi fokus perhatian baik pelukisan fisik maupun karakter.

Tokoh cerita yang dimaksud sebagai pelaku yang dikisahkan dalam cerita fiksi lewat alur. Dalam cerita anak, tokoh tidak harus manusia, tapi dapat juga berupa binatang atau objek lain yang biasanya dalam bentuk personafikasi manusia. Tokoh-tokoh cerita yang menjadi hero pasti akan diidolakan anak-anak, misalnya tokoh film “Bawang Putih dan Bawang Merah”, “Harry Potter”, juga tokoh komik “kapten Tsubasa”, “Crayon Sincan”, dan lain-lain.

Nurgiyantoro (2005:165) mengemukakan, “Bahwa tokoh cerita dapat dipahami sebagai seseorang yang ditampilkan dalam teks cerita naratif yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu sebagaimana diekspresikan lewat kata-kata dan wujud dalam tindakan”.

Alur Cerita
Dalam kaitannya dalam teks suatu cerita, alur berhubungan dengan berbagai hal seperti peristiwa, konflik yang terjadi, dan akhirnya mencapai klimaks serta bagaimana kisah itu diselesaikan. Menurut Sudjiman (1987:29), Alur (plot) adalah peristiwa yang diurutkan sehingga membangun tulang punggung cerita. Alur berkaitan dengan masalah bagaimana peristiwa, tokoh dan segala sesuatu digerakkan, dikisahkan sehingga suatu rangkaian cerita yang padu dan menarik. Selain itu alur juga mengatur berbagai peristiwa dan tokoh itu tampil dalam urutan yang enak, menarik tetapi juga terjaga kelogisannya dalam kelancaran ceritanya.

Sumardjo dan Saini (1991:139) mengatakan bahwa :
“Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan sebab akibat. Artinya, peristiwa pertama menyebabkan terjadinya peristiwa kedua, peristiwa kedua menyebabkan terjadinya peristiwa ketiga, dan demikian selanjutnya, hingga pada dasarnya terakhir ditentukan terjadinya oleh peristiwa pertama”.

Kasim (1994:151) mengatakan bahwa :
Alur cerita adalah jalinan atau rangkaian peristiwa yang dikisahkan dalam karya satra untuk mencapai efek tertentu. Rangkaian peristiawa ini di sana terjalain secara seksama dari pengenalan peristiwa, rumitnya suasana, klimaks dan penyelesaiannya peristiwa. Alur cerita merupakan rangkaian berbagai peristiwa yang terjadi secara sambung menyambung dan akhirnya menjadi sebuah certa yang menarik.

Selanjutnya menurut Sudjiman (1987:29), alur (plot) adalah peristiwa yang diurutkan sehingga membangun tulang punggung cerita. Alur cerita dapat menghadirkan tokoh sehingga mampu tampil sebagai sosok pribadi yang menarik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tokoh cerita tidak akan hadir dan berkembang tanpa alur cerita yang menggerakkannya, dan sebaliknya alur pun tidak dapat dikembangkan tanpa tokoh yang menjadi fokus pengembangannya. Singkatnya, ada hubungan erat antara tokoh dan alur cerita. Alur cerita tidak lain adalah cerita tentang tokoh, riwayat hidup, dan lain - lain yang terkait dengan tokoh.

Latar
Latar/setting dapat dipahami sebagai tumpuan berlangsungnya berbagai peristiwa dan kisah dalam cerita fiksi tidak dapat terjadi begitu saja tanpa kejelasan. Apalagi untuk cerita fiksi anak yang dalam hal banyak memerlukan rincian konkret yang lebih menjelaskan apa dan bagaimana berbagai peristiwa yang dikisahkan.

Latar menunjukkan tempat, yaitu lokasi di mana cerita itu terjadi, waktu, kapan cerita itu terjadi, dan lingkungan sosial budaya, keadaan masyarakat tempat tokoh dan peristiwa terjadi.

Latar terdiri atas tiga unsur, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar lingkungan sosial budaya. Latar tempat menunjukkan tempat di mana cerita yang dikisahkan itu terjadi. Dalam cerita anak, deskripsi tentang latar tempat cukup penting untuk membantu anak memahami dan mengembangkan imajinasi. Lewat deskripsi latar, pembaca akan memperoleh pengetahuan dan persepsi baru, dan itu merupakan suatu bentuk pengalaman batin yang berharga.

Tema
Secara sederhana tema dapat dipahami sebagai gagasan yang mengikat cerita. Menurut Nurgiyantoro (2005:260) “Tema merupakan dasar pengembangan cerita”. Sedangkan menurut Keraf (1984:107), “Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Sebagai suatu gagasan yang ingin disampaikan tema dijabarkan dan dikonkretkan melalui unsur-unsur intrinsik yang lain seperti tokoh, alur, dan latar. Pemahaman terhadap tema suatu cerita adalah pemahaman terhadap makna itu sendiri. Tema merupakan gagasan utama.”

Tema lazimnya berkaitan dengan berbagai masalah kehidupan manusia, karena sastra berbicara tentang Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya. Tema apa yang akan diangkat ke dalam suatu cerita fiksi tergantung pada kemampuan penulis, tetapi yang paling banyak ditemukan adalah tema yang berkaitan dengan interaksi antar sesama.

Moral
Moral dapat dipahami sebagai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Moral berkaitan dengan masalah baik dan buruk. Untuk cerita anak istilah moral dapat dipahami secara lebih konkret sebagai mengajarkan. Kehadiran moral dalam cerita fiksi dapat dipandang sebagai semacam saran terhadap perilaku moral tertentu yang bersifat praktis, tetapi bukan resep atau petunjuk bertingkah laku. Ia dikatakan praktis karena ajaran moral itu disampaikan lewat sikap dan perilaku konkret sebagaimana ditampilkan oleh para pelaku cerita. Dengan demikian, kehadiran dalam unsur moral dalam suatu cerita fiksi, apalagi fiksi anak, tentulah merupakan sesuatu yang mesti ada.

Sudut Pandang
Nurgiyantoro (2005:284) mengemukakan “Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana penampilan tokoh, tindakan, dan peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah teks fiksi kepada pembaca”. Jadi sudut pandang pada hakikatnya adalah suatu cara, strategi atau siasat yang sengaja dipilih pengarang untuk mengungkapkan cerita dan gagasannya. Secara lebih konkret dan spesifik sudut pandang adalah ‘siapa yang melihat’, ‘siapa yang berbicara’, atau ‘dari kacamata siapa sesuatu itu dibicarakan’.

Style
Bahasa yang dipergunakan dalam teks-teks sastra dapat dipandang sebagai representasi suatu stile yaitu stile penulisannya. Stile itu sendiri harus dapat dipahami oleh pembaca, di dalam cerita itu pengarang juga ingin mempengaruhi pembaca (anak) untuk memberikan sikap sebagaimana yang diberikan secara implisit dalam cerita.

Apresiasi Cerita Anak
Apresiasi adalah pengalaman secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru (Alwi, 2001:53). Apresiasi adalah penilaian baik, penghargaan. Mengapresiasi adalah memberi penilaian terhadap sesuatu atau sesuatu itu lebih baik adanya atau sering dikatakan pemberian penghargaan kepada sesuatu.

Kegiatan mengapresiasi pada dasarnya adalah kegiatan individual yang bersifat subjektif, maksudnya setiap individu mempunyai kemungkinan pemahaman, penghayatan yang berbeda sesuai dengan nilai, kesungguhan, kejujuran, kepekaan, emosional serta pengetahuan dan pengalaman kehidupan masing-masing. Menurut Nurgiyantoro (2005:35) “Cerita anak adalah cerita di mana anak adalah subjek yang menjadi fokus perhatian. Tokoh cerita anak boleh siapa saja, namun mesti ada anak-anaknya, dan tokoh anak itu tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga pusat pengisahan”. Cerita anak adalah cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak. Cerita anak terutama ditujukan kepada pembaca anak walau dalam praktiknya orang dewasa juga banyak yang membacanya.

“Apresiasi cerita anak adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pelajaran yang berharga sebagai pengalaman kehidupan anak sesuai dengan dunianya untuk mengembangkan fantasinya” (Nurgiyantoro, 2005:219).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa apresiasi cerita anak adalah suatu penilaian, pemahaman, penikmatan, dan penghargaan terhadap cerita anak.